Jumat, 27 Januari 2012

BAB 2 FOLLOW WIND


Pagi ini Lily sangat bersemangat. ditemani lagu kesukaannya Laruku yang berdetup-detup ditelinganya, ia mengayuh sepeda gunungnya dengan senyuman. Lily adalah seorang anak yang berambisius untuk melakukan apapun dengan caranya, dengan jalannya. Tinggal dengan nenek dan kakeknya, ia telah bertransformasi menjadi perempuan yang mandiri. Kedua orang tuanya sudah lama meninggal. Ia hanya tau potret kedua orang tuanya di ruang tamu dan cerita dari kakeknya. setelah memberikan susu dan sisa sarapan paginya ke 7 kucingnya, ia berbegas mengambil mp3 player dari kamarnya dan membuka pengaman sepedanya.

"Nek, Kek, Aku berangkat..." Lily berpamitan sambil mengayuh sepedanya.

Neneknya yang sedang merapihkan meja di halaman melihat cucunya yang mengayuh sepedanya.

"Cucu kita apa tidak kita antarkan nek kesekolah. Aku ingin melihatnya diantara anak-anak lainnya?" Kakek melambaikan tangan ke lily sambil agak mencemaskannya.

"Lain kali kek, setelah kakek sudah agak baikan yah.." nenek mengelus pundak kakek mencoba memberi pengertian ke kakeknya.

Lily adalah perempuan belia yang tangguh. Berambut pendek, berperawakan kecil namun terlihat anggun dengan memakai rok panjang agar dia bebas mengayuh sepeda gunungnya.

Nijiiro ni kagayaku
(As it's such a wonderful time,)
Suteki na toki dakara
(the color is shining iridescently)
Kaze ni fukarete iru
(I want to look at you),
Kimi wo mite itai
(being blown in the wind.)
Lagu favorit dari band kesukaannya Laruku adalah Kaze ni Kienaide. Selain musiknya membuatnya semangat, ia sangat menyukai hentakan drummernya sakura. Awalnya dia hanya mendengarkan musiknya lalu lama-lama ia mencoba belajar mengartikan lirik yang terkandung dalam lagunya. Alhasil dia sudah jatuh cinta kepada band jepang ini. Vokalisnya hyde, menurut ia  sangat terampil dalam merangkai kata-kata.
Sebenarnya jarak sekolah dengan rumahnya tidak terlalu jauh dan hanya bisa ditempuh oleh sepeda 30menit. Namun lily lebih memilih memutar jalannya. Alasannya simple, ia ingin menjelajahi jalan menuju sekolah barunya.
Waktu menunjukan jam 6.55 W.I.B anak-anak baru sudah mulai berbaris dilapangan, mulai  saling memperkenalkan diri kemasing-masing anak yang baru ditemui. Sedangkan orangtua siswa melihatnya dari dihalaman sekolah tidak jauh dari lapangan.
Dikejauhan, seorang anak perempuan bergegas mengunci sepedanya di tempat yang disediakan sambil berlari-lari kecil menuju lapangan untuk ikut berbaris. Sebagian orang tua memperhatikan anak  perempun tersebut yang datang sendiri tanpa ditemani oleh orang tuanya.
“Maaf Pak, apakah Upacaranya sudah dimulai?” tanya Lily kepada lelaki paruh baya yang sedang berdiri memperhatikan anak-anak di lapangan.
“Sepertinya belum nak. Lekas berbaris!” lelaki paruh baya tersebut memberikan petunjuk kearah lapangan kepada Lily sambil tersenyum.
“Terima kasih Bapak!!” Lily membalas senyumannya sambil berlari cepat menuju lapangan untuk berbaris.
Disampingnya anak laki-laki seumurannya memperhatikan gerak-gerik Lily.
“Maklum takut telat tadi, jadi agak tergesa-gesa.” Lily mencoba memberikan alasan kepada anak laki-laki yang terus memperhatikannya.
“oh iya. Maaf, bukan maksudnya ” anak laki-laki tersebut gugup karena ketahuan memperhatikan lily.
“He..he..he. Lily nama’ku” Lily menyodorkan tangannya untuk berkenalan.
“Iya. Salam kenal. Nama’ku Kizzy” Anak laki-laki itu membalas salam perkenalannya ke Lily.

Minggu, 10 Juli 2011

 BAB 1 Mengikat tali sepatu

Kizzy nama’ku. Hari ini adalah hari pertama aku masuk sekolah menengah pertama. Aku sangat senang sekali, karena selain akan banyak petualangan baru. Hari ini adalah hari penentuan tim inti balap lari. Aku sangat bersemangat sekali untuk segera berlari di lapangan yang lebih luas. Untuk segera merasakan denyut-denyut jantung’ku berirama ketika mencoba mengejar waktu.

“kizzy!!! Habiskan makanan’mu nak” dikejauhan ayah’ku memanggil.
“iya yah. Sudah habis kok.”

Oh iya. Ayah’ku akan mengantarkan ku ke sekolah hari ini. Hari ini ia sangat cerewet sekali, seperti ibu-ibu yang kehilangan panci untuk merebus air, sehingga ia jadi kalang kabut. Tetapi bagaimanapun ayah’ku adalah no.1, selain mengasuhku seperti ibu, ia juga adalah pelatih aku. Beliau sangat berdisiplin sekali kepadaku tentang apa saja. Tapi ia segalanya bagiku. Ia selalu membanggakan’ku di setiap kesempatan ketika pertemuan keluarga. Menceritakan bagaimana prestasi-prestasi yang aku raih

“kau sudah persiapkan perlengkapan’mu nak.”
“sudah yah!!”
“Makan siang’mu dan vitamin, sudah kau masukan juga ke ranselmu itu”
“sudah semua bos. Tinggal instruksi berangkat ajah nih yang belum”
“oh iya yah. Oke kita berangkat.”

Sambil menyalakan motor butut yang kami punya satu-satunya, ayah’ku memberikan gambaran bagaimana sekolahku nanti. Bercerita  tentang bagaimana aku bisa bersosialisasi di lingkungan yang baru. Beliau memintaku agar aku dapat menjaga diri dengan cara berlaku sopan dan menghindari diri dari masalah. Dan sepanjang jalan, seperti biasa, kami habiskan untuk bersenda gurau tentang apa saja.

Sekolah negeri memang menyenangkan. Banyak siswa-siswi disini yang dari pagi sudah berkumpul, tapi kebanyakan dari mereka memang satu sekolah disekolah dasar. Mereka sepakat untuk bersekolah di tempat yang sama. Terdengar suara pengeras suara agar anak baru berkumpul di lapangan untuk upacara bendera dan penyambutan. Dan ayahku melihatku berkaca-kaca ketika aku mulai mengikuti kerumunan anak-anak seusiaku berbaris di lapangan.

Jumat, 22 April 2011


Ketika menggambar ini saya seperti dibawa kembali ke 16 tahun yang lalu dimana saat itu saya menikmati masa kecil di tempat ini. Yah Dahulu SDN ini bernama SDN Bumi Bekasi Baru II dan SDN Bumi Bekasi Baru VIII. masa-masa dimana Lagu-lagu boyband menggema, permainan vidiogame mulai mengalihkan anak-anak kala itu yang senang bermainan layangan, bermain kelereng, bermain apa saja. Sekarang gedung lama sudah dirobohkan, anak-anak yang dulu belia tumbuh menjadi individu-individu dan guru-guru yang lama mengajarpun sudah entah berada dimana...

Yup...menikmati nostalgia bersama warna...

Saya sangat kangen dengan suasana kala itu...

Kamis, 21 April 2011

Kali ini saya mencoba untuk men'sketch ruang kerja saya. Kadang rutinitas kerja serta lingkungan memang terasa sangat membosan'kan, pergi pagi-melakukan hal yang seperti biasa seperti kemarin-lalu pulang. Pertanyaannya, apakah saya benar-benar merasa hidup. ternyata hal yang paling menyenangkan buat saya tetaplah menggambar dan kali ini saya mencoba untuk sketch ruangan kerja saya yaitu ruang opperation secara real time. dan saya sangat menikmatinya, karena untuk menangkap objek sesuatu punya keasikan tersendiri. Mengenai detail saya belum merasa puas, entah apa!! mungkin karakter dari pengambilan objeknya.

Sabtu, 16 April 2011

Entah mengapa jika melihat bunga matahari membuat saya seperti melihat bunga tersebut memiliki arti. Dan benar, pada saat membaca Davinci Code karya Dan Brown mengetahui bahwa kompleksitas bunga itu masuk kedalam ilmu pengetahuan. Gambar ini dibuat ketika hal tersebut terimajinasi dipikiran sambil mendengarkan "ivory tower" yup... akhirnya terciptalah gambar ini. Gambar ini dibuat bulan november 2006 dengan menggunakan pensil warna.

Jam 23.47 WIB…
John Mayer
“Say What You need to say”…
Lagu penghantar tidur…
Perlahan badan’ku ku rebahkan,
Terbius kelelahan fisik. Mencoba menikmati alunan musik, mecoba menenangkan seluruh bagian tubuh, namun kepala’ku sepertinya  mencoba membuat sebuah film documenter. Tiba-tiba Sayup-sayup  suasana malam pun ikut  menggambarkan,  Mengembalikan memori ke 2 bulan  yang lalu. Udara malam perlahan membangunkan kabut-kabut yang menerbangkan semua gambaran-gambaran, menyelimuti sekitarnya dengan suara, semilir angin antara pelari-pelari besi.
yUp… 2 bulan lalu tepatnya aku memulai untuk melanjutkan kembali pendidikan di perguruan tinggi. Pendidikan yang aku coba teruskan ke jenjang yang lebih tinggi, berusaha menjadi orang terpelajar, mencoba menjadi lebih berguna, tidak hanya buat’ku dan masa depan, namun hal tersebut menandakan bahwa orang tua’ku berhasil. Orang tua’ku kini dapat berbangga kepada dirinya bahwa mereka telah berhasil meberikan anak-anaknya kesempatan lebih baik, dan buat’ku ini adalah kesempatan  untuk  melengkapi diri dengan ilmu pengetahuan. Namun, dalam menjalin hal tersebut tidaklah mudah, tidaklah semacam mimpi indah disaat kita tidur, yang ketika bangun dapat membuat simpul senyum. Pada kenyataannya  setiap keinginan dan kemauanku tidak’lah sempurna, namun harus  di perjuangkan dan selalu percaya bahwa aku akan dapat menggambarkan warna pelangi’ku sendiri dihamparan luas langit.
Wake all of your wasted honor
Every little past frustration
Take all of your so-called problems,
Better put 'em in quotations..
Hari ini adalah hari pertama aku kuliah, jadwal menyebutkan bahwa aku harus bisa sampai pukul 19.00 dikelas. Teman’ku mengirim pesan bahwa ia tidak mengambil kuliah pada hari biasa, selain karena lelah sehabis bekerja, jadwal keesokan harinya juga pagi. Namun pesan singkat tersebut tidak membuat’ku berhenti datang ke kampus. “Kau harus mencobanya, mencoba untuk dapat datang.” Jalannya adalah dengan menggunakan motor, aku yakin bahwa jarak antara kantorku bisa lebih cepat disampai jika menggunakan motor. Dan, pagi ini pun aku berpamitan kepada ibu bahwa akau berangkat bekerja dengan menggunakan motor. Aku juga ijin bahwa setelah pulang dari kantor, aku langsung pergi belajar. Aku tidak dapat membayangkan bahwa, kejadian selanjutnya akan merubah atau lebih tepatnya mendewasakan’ku. Yah, dewasa dalam bertindak, berfikir, dan berusaha meluaskan hati. Dan kejadian ini pun sebagai penyemangat aku ketika kehilangan arah.
06.30, aku bergegas menyiapkan segala sesuatu untuk pergi bekerja. Walaupun tidak mengerti benar jalan menuju kantor, aku mencobanya. “ikuti saja orang yang akan pergi kejakarta, kau akan menemukan seribu jalan disana” pikir’ku. Walaupun, 1 x menabrak motor pengendara lain, sisanya kesasar ke tempat yangtidak ku kenal, akhirnya aku sampai ke kantor’ku. “yah…. Walaupn telat 1 ½ jam J….” Oh iya, sebelum aku ceritakan mengenai lebih lanjut, tempat sekarang aku bekerja, adalah tempat yang menurut’ku merupakan salah satu tempat keajaiban dunia versi’ku. Bagaimana tidak, kantor tempat’ku berkerja memiliki keunikan sendiri, kadang membuat’ku tertawa keras, namun bisa sebaliknya, membuatku benar-benar terjepit.
Seperti kejadian hari ini. Hari ini merupakan hari tersulit buat’ku, hari dimana aku harus menjadi orang yang memiliki tingkat kesabaran yang sangat besar, orang yang harus mampu menganalisa suatu kejadian, lalu membuat perkiraan-perkiraan terhadap tanggapan dari kejadian tersebut.
Sudah seminggu lebih, aku dipindahkan kedalam departemen yang baru. Saat teman-teman lama’ku mendapatkan sebuah tranning atau ilmu baru, aku berusaha keras menyelesaikan masalah-masalah. Yang lebih menyakitkan lagi bahwa kebanyakan dari mereka saling membicarakan satu sama lain. Hal tersebut aku  gambarkan sebagai komunikasi hitam, dimana satu sama lain saling menutupi kelemahan masing-masing agar diterima pembenarannya dengan cara memberikan informasi mengenai kesalahan atau kelemahan orang lain. Aku sangat kacau dalam seminggu terakhir, aku mengerti benar bahwa satu sama lain saling mencekik, tidak memberi nafas buat orang lain. Disetiap singgahan dan rehat, aku pasti mendengar bahwa ada saja pembicaraan hitam. Beruntung saja aku sudah sangat terbiasa dengan hal ini, dan prinsip buat’ku adalah “jika orang lain ke kanan, mengapa kau tidak mencoba untuk ke kiri.”
Namun kejadian hari ini, membuatku sangat terpukul. Hari ini aku dipanggil oleh atasan’ku karena suatu hal, Beliau mengajak’ku untuk makan siang bersama, dan hanya aku di undang. Belakangan, aku mengerti bahwa ada seseorang yang ingin aku menderita lebih, yang tidak dapat membuatku tertawa, yang ingin mengubah prinsip hidup bahwa aku harus mengikuti kearah kanan.
Seharian aku berpikir, seharusnya aku memiliki orang-orang yang bisa kupercaya, yang menganggap sebuah keluarga, namun pemikiran’ku ternyata salah, aku tidak lebih seorang tamu jauh yang mencoba menjadi keuarga. Ternyata ini bukan rumah’ku, bukan saudara-saudara karirku. Saat itu waktu sudah menunjukan pukul 17.00.
Jam 17.30 aku bergegas bersiap untuk pergi ke kampus. Walaupun hati ini terasa sempit, hari ini masih ada yang belum ku tuntaskan, yah…..aku harus pergi ke kampus, ada mata kuliah hari ini.
Karena baru pertama kali aku pergi ke kampus dengan menggunakan motor, maka aku pun meminta teman agar menunjukan jalan. Dalam perjalanan aku memikirkan banyak sekali pertanyaan. Bukan karena masalah yang terjadi dikantor atau apaun yang berhubungan dengan orang, tetapi bagaimana seharusnya aku harus bersikap. Kadang aku berfikir, aku tidak memiliki kesempatan, tidak memiliki sesuatu yang ingin kuperuangkan,  yang kubutuhkan adalah kesempatan, kesempatan bagaimana aku bisa memiliki sesuatu yang berharga, sesuatu yang bisa aku perjuangkan, sesuatu yang kupunya sendiri.
Tak terasa separuh perjalanan aku lewati, Km di motor’ku pun tak terasa menunjukan 80km per jam. Waktu menunjukan jam 18.55, dan ketika aku lihat kedepan, teman penunjuk jalan’ku sudah jauh di depan. Saat itu aku merasakan jalan begitu sepi, begitu tenang. Perasaan’ku pun terasa begitu luas sekali, dan ketika sadar, jalan didepanku ternyata menurun, aku tidak memperhatikan, dan tiba-tiba seperti berbelok. Aku tidak tahu apa yang terjadi. badanku terpental karena aku menginjak rem kuat-kuat. Saat itu aku terdiam dijalan, gemetaran. Aku susah payah bangun, berusaha menuntun motor namun sepertinya badan’ku menolak untuk bangun. Nafas’ku berburu, pikiran’ku seperti tidak dapat memberi perintah. Dalam bayangan’ku, aku ditatih oleh seseorang, perlahan, aku di senderkan ke motorku, walaupun masih di tengah jalan, ada pengendara lain yang peduli saat itu. Aku dibangunkan, dan kata-kata yang kuingat adalah “anda tidak apa-apa”,  “berhati-hatilah, jalanan sangat berbahaya..”  beberapa menit kemudian  pengendara tersebut kembali melanjutkan perjalanan. Masih setengah sadar aku berusaha meghiduplkan kembali motor’ku , dan tepat di belakang’ku klakson kencang busway. Aku pun mencoba berjalan kepinggir jalan. Sendiri.
Even if your hands are shaking
And your faith is broken
Even as the eyes are closing
Do it with a heart wide open…
Saat itu aku sudah tidak memperdulikan mau kemana lagi,. Ibu jari’ku tak terasa, sekujur kaki terasa sakit. Namun, akhirnya aku tekad’ku member perintah, agar aku tetap menuju ke kampus. Sepanjang perjalanan helm’ku pun basah dengan keringat dan putus asa. “Mengapa begitu sulit, mengapa harus begitu banyak luka-luka agar aku bisa memperoleh sesuatu.” “selalu begini, selalu terasa sulit!!” “Padahal aku berniat baik!!” “yang kuinginkan bukan sebuah kekuasaan, atau apapun yang menyenangkan, aku hanya ingin memiliki kesempatan!!” “ITU SAJA!!”
Akhirnya, aku kalah dengan takdir. Aku tidak mungkin belajar dengan kondisi ini,  aku’pun menunggu seseorang agar dapat menemani pulang. Saat itu aku beristirahat di sebuah masjid.
Setelah beberapa pemeriksaan di UGD dan check labolatorium mengenai kemungkinan luka dalam, dan beberapa nasehat mengenai perjalanan’ku. Aku tiba dirumah. Saat itu aku tidak percaya bahwa ibu’ku akan mengetahui kejadian hari ini. Aku akhirnya beristirahat di kamar.
Setiap manusia memiliki impian dan keinginan, begitu’pun aku, aku yang memilki mimpi agar dapat mempunyai pelangi’ku sendiri. Walaupn aku masih sebagai tamu, aku yakin suatu saat nanti aku memilki rumah sendiri, memilki keluarga dan saudara karir yang sama-sama memberikan nafas.
Saat ini aku masih mencari.
Masih bereksperimen dengan warna-warna kehidupan.
Masih mencoba menggambarkan pelangi’ku sendiri.

Jumat, 15 April 2011

Suara sunyi makin mencurigakan
Berbias pada udara malam


Siang terasa rapuh
Malam yang entah darimana berasal
Masih melihat kebawah
Tali sepatu yang sedikit longgar
...
...
Kemanakah larinya penah ini akan melangkah
Tak tentu pula aku pikirkan


Kubiarkan bunga kertas ini
Karna hanya berupa coretan
 

Copyright 2010 COLOUR BOOK.

Theme by WordpressCenter.com.
Blogger Template by Beta Templates.